Selasa, 22 November 2016

Takut basah

"Randaaaa.. bangun dulu kauuu.." teriak bossku yang mengejutkanku dari tidurku. "Lihat ini hujan deras, air mengalir, kau lipat dulu alas itu biar gak basah!" Perintah bossku dengan nada tegas. Aku bergegas bangun dan langsung melipat alas pelastik tebal yang terletak di atas aspal yang mana adalah tempat kami untuk berjualan dan yang pada saat ini kami tidur diatasnya.

Setelah aku melipatnya, kemudian aku mengambil hpku dari dalam tasku yang tadinya sebagai sandaran kepala saat aku tidur. Kulihat jam analog pada layar hpku yang menunjukkan pukul 02:58 dini hari, "pantas saja aku masih merasa terjaga, ternyata baru sekitar satu jam aku tidur" gumamku dalam hati. Sebenarnya aku sangat kesal dengan apa yang terjadi saat ini, tapi bagaimanapun juga ini sudah tugasku sebagai pekerja.

Hujaman air yang turun dari langit ini semakin deras, dan membuat tenda tempat kami berjualan menampung banyak air. Suami dari bossku mengambil satu kayu panjang dan kemudian menjolok dibagian tengah tenda agar air yang tertampung tadi mengalir kebawah dan menjaga tenda agar tidak roboh.

"Sudah mulai reda, yasudah tidur lagilah" seru bossku. Akupun berbaring dan kemudian memejamkan mataku, saat aku ingin memejamkan mataku, hujan kembali deras lagi dan tiba-tiba terdengar suara keras yang memanggil namaku (Randaaaa...) ternyata itu adalah suara dari suami bossku. Aku yang tadinya baru saja mau tidur lagi harus bangun kembali. "Kamvret.. apalagi ini?" Tanyaku dalam hati dengan sangat kesal. (Jangan tidur dulu kau.. tak kau tengok ni hujan deras lagi, air mengalir nanti basah semua ni!!) Teriaknya dengan nada yang sangat menjengkelkan.

Kemudian aku menghampirinya dan membantunya melipat ujung-ujung alas yang sudah basah akibat air yang mengalir. Tempat kami berjualan ini memamng sedikit rendah, bentuk jalan yang bergelombang dikarenakan daerah ini adalah daerah perbukitan, ditambah lagi bentuk aspal jalan yang tidak merata membuat tempat kami ini menjadi tujuan air hujan untuk mengalir.

Setelah semua selesai dan hujanpun mulai mereda, suami bossku menyarankan aku untuk tidur ditumpukan lipatan alas yang tidak rata. Ini dikarenakan hampir setengah dari tempat kami berjualan sudah terlipat agar tidak basah oleh aliran air. Sedangkan bossku, suaminya dan satu anaknya yang kali ini ikut berjualan sudah memenuhi tempat untuk tidur. Merekapun melanjutkan tidur mereka yang terganggu tadi.

Sedangkan aku yang sudah terjaga tidak bisa memejamkan mataku lagi. Ditambah lagi jam sudah menunjukkan pukul 03:30 dini hari, dan itu artinya hanya ada satu jam lagi bagiku untuk tidur sebelum kami berberes-beres untuk membuka jualan kami. "Jika aku tidur butuh waktu 10 menit agar aku benar-benar tertidur, berarti hanya 50 menit waktu aku untuk tidur" pikirku.

Kemudian aku mengambil rokok dari dalam tasku dan menyalakannya, kuhisap rokok itu sambil befikir dan merenungkan apa aku harus tidur lagi atau tidak. " jika aku tidur dengan waktu yang sangat sedikit ini, sama aja akan membuat kepalaku sakit, apalagi setelah bangun harus langsung beres-beres, sepertinya lebih baik aku tetap terjaga saja" pikirku.

Dan pada akhirnya aku memutuskan untuk tetap terjaga sampai waktu berjualan tiba nanti.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar